Deden Ismail on-line +628174742928 dedenismail@yahoo.com
dedenismail.theslayer.easyjournal.com
June 2005
SuMoTuWeThFrSa
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Powered by Easyjournal
Male Denpasar Bali,  Indonesia
Nama : Dr. Ir. Deden Ismail, MSi
Tempat/Tgl Lahir: Tasikmalaya, 7 Desember 1951
Jabatan : Kepala Lembaga Penelitian Universitas Mahasaraswati Denpasar Bali
Pendidikan:
S1. Fakultas Peternakan Univ. Udayana Denpasar Bali
Skripsi: Perbedaan Produksi dan Berat Jenis Susu Sapi Hasil Pemerahan Pagi dan Sore Hari Pada Peternakan Sapi Perah di Rawa Seneng
S2. Program Pasca Sarjana Univ. Hasanuddin, Ujung Pandang
Prog. Studi: Pengelolaan Lingkungan Hidup, sub program studi: Konservasi Sumber Daya Alam
Tesis: Kajian Tingkah Laku dan Habitat Perteluran Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Taman Nasional Meru Betiri Kabupaten Banyuwangi
S3. Program Doktor di Univ. Padjadjaran Bandung bidang Peternakan
Disertasi: Kajian Tingkah dan Reproduksi Rusa Jawa (Cervus timrensis sp.) yang dipelihara di penangkaran Cariu dan Ranca Upas Preopinsi Jawa Barat
Jun-21-2005
Description of Behaviour and Reproductive Performance of Captive Javan Deers (Cervus timorensis)
ABSTRACT

Deden Ismail 2001. Description of Behaviour and Reproductive Performance of Captive Javan Deers (Cervus timorensis), under guidance of Soeharsono, Sodikin Atmamihardja, Kasijan Romimohtarto.

Researches were carried out on Javan deers (Cervus timorensis) in two captivity areas, at Cariu, Bogor regency, as low land, and at Ranca Upas, Bandung regency as highland. Those two areas have different altitude, temperatures, rainfall and care management. Study on Javan deers behaviour was performed from morning to afternoon in 12 hours period a day (at 06.00 to 18.00 WIB), taking place from November 1999 to October 2000. This research’s aims to understand about:a) feeding behaviour; duration of grazing, bite rates per minute and number of chewing per minute; b) mating behaviour; c)movement behaviour, such as movement in grazing period and resting period approaching tonight; d)social behaviour; and e)reproduction performance, such as fawns period, birth sex-ratio, growth and fall antlers. The statistical analysis utilizes descriptive statistic, t test and Chi Square test.
The research finding show that duration of grazing in paddock, Javan deers in Cariu compared with in Ranca Upas ( 192,67± 59,88<341,80±141,51) is highly significant (P<0,01).Total grass bite rates in minute for Javan deers in Cariu compared with in Ranca Upas for each age groups mature, young and fawn each others are: 59,15±6,70>46,44±6,39 (P<0,01); 55,64±6,02>45,00±6,40 (P<0,01); 58,55±9,06>43,50±2,12 (P<0,05). Meanwhile number of chewing per minute for Javan deers in Cariu compared with in Ranca Upas for each age groups mature, young and fawn each others are: 58,60±4,14<62,00±3,62 (P<0,01); 52,69±5,04 <59,00±2,53 (P<0,05); 46,70±1,70 <49,50±0,71 (P<0,05). Duration of Javan deers rest in Cariu compared with in Ranca Upas is (300,83±62,07) minutes <(392,70±140,87) minutes (P<0,05).
There is no difference in mating behaviour between Javan deers care for in Cariu and Ranca Upas. Male Javan deers out of mating season have solitary character and their mating nature are polygamous. Mating occurs for a long year with primary mating season between September to December in Cariu and September to Januari in Ranca Upas.
There is difference in movement pattern between Javan deers in Cariu and Ranca Upas.
The social behaviour level in Javan deers group in both area out of mating season is dominated by adult female because male will be solitary. In mating season, hierarchy of male social dominance would be clearer appeared, meanwhile out of mating season, their social dominance does not appear. The dominance hierarchy level in male Javan deers group in Cariu or Ranca Upas to possess Peck Order pattern. Javan deers social interaction with people (breeder) in Cariu is more close than in Ranca Upas.
The Javan deers fawn birth in Cariu and Ranca Upas could take place a long months in a year. There are more female fawn Javan deers if compared with male ones (P<0,05) in Cariu or Ranca Upas. There are differences in growth and fall of antlers periods between Javan deers in Cariu and Ranca Upas.
Abstrak disertasi
ABSTRAK
Deden Ismail, 2001. Kajian Tingkah Laku dan Kinerja Reproduksi Rusa Jawa (Cervus timorensis) yang Dipelihara di Penangkaran, di bawah Bimbingan Soeharsono, Sodikin Atmamihardja, Kasijan Romimohtarto.

Penelitian dilakukan terhadap Rusa Jawa (Cervus timorensis) pada dua tempat penangkaran yaitu di Cariu Kabupaten Bogor yang merupakan dataran rendah dan di Ranca Upas Kabupaten Bandung yang merupakan dataran tinggi. Kedua tempat tersebut mempunyai ketinggian tempat, temperatur, curah hujan, serta manajemen pemeliharaan yang berbeda. Penelitian tingkah laku Rusa Jawa dilakukan pagi hingga sore hari dalam waktu 12 jam sehari (jam 06.00 WIB hingga 18.00 WIB) berlangsung dari November 1999-Oktober 2000. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: a) tingkah laku makan yaitu: lama merumput; jumlah renggutan per menit; jumlah kunyahan per menit; b) tingkah laku kawin, c) tingkah laku pergerakan yaitu pergerakan pada saat merumput dan saat beristirahat menjelang malam hari, d) tingkah laku sosial, serta e) kinerja reproduksinya, yaitu: waktu kelahiran anak rusa, rasio kelamin (sex ratio) anak yang dilahirkan, waktu pertumbuhan dan pengguguran ranggah. Analisis statistik digunakan statistik deskriptif, uji t dan uji Chi Square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama merumput di pedok, Rusa Jawa di Cariu dibandingkan dengan di Ranca Upas (192,67±59,88 <341,80±141,51) menit berbeda sangat nyata (P<0,01). Bila dibandingkan banyaknya renggutan rumput per menit Rusa Jawa pada masing-masing kelompok umur dewasa, muda dan anak-anak di Cariu dengan di Ranca Upas masing-masing adalah: 59,15±6,70 > 46,44±6,39 (P<0,01); 55,64±6,02 > 45,00±6,40 (P<0,01); 58,55±9,06> 43,50±2,12 (P<0,05). Sedangkan banyaknya kunyahan per menit Rusa Jawa pada masing-masing kelompok umur dewasa, muda dan anak-anak di Cariu dengan di Ranca Upas masing-masing adalah: 58,60±4,14 < 62,00±3,62 (P<0,01); 52,69±5,04 < 59,00±2,53 (P<0,05); 46,70±1,70< 49,50±0,71 (P<0,05). Lama istirahat Rusa Jawa di Cariu dibandingkan dengan di Ranca Upas adalah 300,83 ± 62,07 menit < 392,70 ± 140,87 menit (P<0,05). Tidak ada perbedaan tingkah laku kawin antara Rusa Jawa yang dipelihara di Cariu dan Ranca Upas. Rusa Jawa jantan di luar musim kawin bersifat soliter, dan sifat perkawinannya adalah polygamous. Perkawinan terjadi sepanjang tahun, dengan musim kawin utama di Cariu antara bulan September hingga Desember, sedangkan di Ranca Upas antara September hingga Januari. Ada perbedaan pola pergerakan Rusa Jawa, antara Rusa Jawa di Cariu dan Ranca Upas.
Tingkatan sosial pada kelompok Rusa Jawa di luar musim kawin didominasi oleh betina dewasa, sebab pejantan yang dominan akan soliter. Di musim kawin, hirarki dominansi sosial pejantan lebih jelas nampak, sedangkan selain musim kawin, dominansi sosial oleh pejantan tidak nampak. Tingkat hirarki dominansi pada kelompok Rusa Jawa jantan di Cariu maupun di Ranca Upas cenderung mempunyai pola Peck order.Interaksi sosial Rusa Jawa dengan manusia (pemelihara) di Cariu lebih erat dibandingkan dengan di Ranca Upas.
Kelahiran anak Rusa Jawa di Cariu dan Ranca Upas dapat terjadi sepanjang bulan dalam setahun. Lebih banyak anak Rusa Jawa betina yang dilahirkan dibandingkan dengan jantan (P<0,05). Ada perbedaan interval waktu pertumbuhan dan pengguguran ranggah antara Rusa Jawa di Cariu dan Ranca Upas.
Jun-20-2005
The Study of Eggs-laying Behaviour and Habitat of Green Turtles (Chelonia mydas L.) in Sukamade, Meru Betiri National Park, Banyuwangi Regency
THESES
ABSTRACT
The Study of Eggs-laying Behaviour and Habitat of Green Turtles (Chelonia mydas L.) in Sukamade, Meru Betiri National Park, Banyuwangi Regency

Deden Ismail
Mahasaraswati University
Denpasar Bali
1993


The purpose of this study was to know the pattern and eggs-laying behaviour of green turtles in Sukamade, as well as to know the habitat for eggs-laying and the influential factors for the number of green turtles eggs-laying nests, because the change of the habitat and disturbance to green turtle's life will influence the green turtles population.
The eggs-laying behaviour of the green turtles researched had seven steps: 1) selecting the habitat, 2) digging holes for their bodies, 3) digging holes for their eggs, 4) eggs-laying process, 5) closing the eggs holes, 6) closing the holes for their bodies and making trick holes, 7) returning to the sea. The total time needed for egss-laying was 161,4 minutes. The "memeti" (unsuccessful eggs-laying) in a character often found at the green turtles in Sukamade. One of the three eggs-laying green turtles, was once found "memeti"
The eggs-laying period of the green turtles in Sukamade occurs all the years round. The eggs-laying period starts in November until February and achieves the maximum period in January, then decreases and the lowest one is in August. There was a significance correlation (P<0,05) between the amount of rain fall and the number of green turtles laying-eggs.
There was a significance infleuence (P<0,05) of the beach block distribution based on the freedom of veisitors to the area, the influence of esatuary and coral reef on the number of the green turtle's nests.
There was a highly significance influence (P<0,01) between various vegetation shelters and the number of green turtle's nests, where most of them laid eggs under the shelter of pandan trees (Pandanus tectoris)

key words: eggs-laying, behaviour, habitat, green turtles
Jun-16-2005
Anggur Kulit Buah Pisang
LEMBAGA PENELITIAN
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
ANGGUR KULIT BUAH PISANG
1. PENDAHULUAN
Buah-buahan merupakan bahan pangan sumber vitamin. Selain buahnya yang dimakan dalam bentuk segar, daunnya juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Misalnya daun pisang untuk makanan ternak, daun pepaya untuk mengempukkan daging dan melancarkan air susu ibu (ASI) terutama daun pepaya jantan, tetapi kulit buah pisang jarang dimanfaatkan untuk manusia
Anggur kulit buah pisang adalah jenis minuman sari buah yang dibuat dengan cara peragian. Proses peragian berlangsung selama 7~15 hari. Kandungan gula pada bahan diubah menjadi alkohol oleh ragi. Ragi tersebut mulai bekerja aktif bila terlihat ada gelembung-gelembung udara. Pada proses ini, bahan-bahannya harus ditempatkan dalam botol yang tertutup rapat. (tanpa udara).
Kulit buah pisang yang biasa dibuat anggur antara lain : kulit buah pisang raja, kulit buah pisang kepok, atau kulit buah pisang agung. Namun produk anggur kulit pisang yang paling baik adalah dari jenis kulit pisang raja atau pisang agung, karena kulit buah pisang ini lebih manis dan kulit buahnya lebih tebal.
2. BAHAN
1. Kulit buah pisang pisang raja atau pisang agung1 kg
2. Taoge (kecambah) 2 ons
3. Ragi roti (gist) 3 sendok teh
4. Gula pasir 1 kg
5. Air bersih 6 liter
3. ALAT
1. Panci
2. Alat penumbuk (alu)/blender
3. Botol besar/jerican yang sudah disterilkan (untuk peragian)
4. Gabus (untuk penutup botol), atau penutup jerican
5. Pipa plastik bergaris tengah 1 cm
6. Kain saring, blacu atau kalo
7. Lilin untuk penutup gabus
8. Timbangan
9. Pisau
10. Talenan
4. CARA PEMBUATAN
1. Kupas kulit buah pisang buah kemudian potong kecil-kecil lalu rebus, jangan sampai mendidih;
2. Hancurkan buah, tambahkan air 400 ml lalu saring dengan kain saring, blacu atau kalo untuk mendapatkan sari buah;
3. Rebus kecambah atau taoge dalam 1 liter air, peras dan campurkan air perasan dengan air rebusannya untuk memperoleh sari (ekstrak) taoge;
4. Campurkan sari kulit buah pisang dengan sari taoge. Tambahkan air dan gula sedikit demi sedikit sampai isinya mencapai 6 liter;
5. Panaskan selama 15 menit (dihitung mulai dari setengah mendidih). Setelah itu saring dengan kain saring dan dinginkan dengan cara diangin-anginkan
sampai suhunya turun;
.
Gambar 1. Fermentasi Anggur kulit Buah pisang



5. Tambahkan ragi roti (gist) sebanyak 3 sendok teh yang telah dilarutkan dalam air hangat secukupnya ke dalam campuran sari buah dan taoge pada
saat suhunya turun;
6. Masukkan dalam botol (harus penuh betul agar tidak ada udara yang masuk) dan tutup dengan gabus yang diberi lubang kecil untuk memasukkan pipa plastik serta rapatkan lubang gabus tadi dengan lilin;
7. Biarkan selama 14 hari pada suhu ruangan. Selama peragian, pipa plastik yang berbentuk U diisi air untuk menghalangi masuknya udara dari luar;
8. Sebelum diminum, anggur harus dimasak dahulu dan ditambah gula pasir secukupnya, karena hampir semua gula yang ditambahkan pada saat pengolahan diubah menjadi alkohol,



DIAGRAM ALIR PEMBUATAN ANGGUR KULIT PISANG


Dibersihkan, dikupas, dipotong kecil dicuci

Rebus rebus

Diblender diperas dan disaring

Disaring


Sari kulit buah pisang

Gula pasir dan air

Panaskan 15 menit

Disaring
Ragi roti ( 3 sendok teh)
Dibotolkan

Peragian (± 14 hari)

Catatan :
1. Supaya ragi dapat tumbuh dan bekerja dengan baik dapat ditambahkan amonium phosphat <(NH4)3 PO4} 0,25 gram/liter sari kulit buah.
2. Untuk menghambat atau membunuh pertumbuhan mikroorganisme (bakteri atau kapang) yang tidak dikehendaki dapat ditambahkan kalsium metabisulfit 0,125 gram/liter sari buah.
DAFTAR PUSTAKA
1) Winarno, F.G. dan Mardjuki. Paket industri anggur pisang klutuk. Pusbangtepa, Bogor, 1979.
2) Saragih, Y.P. Pembuatan anggur pisang klutuk. Buletin Pusbangtepa, 4 (14), Mei 1982 : 29-36.
3) Siti Sofiah dan Subardjo. Pembuatan anggur buah pala. Bogor : Balai Besar Litbang Industri Hasil Pertanian. Badan Litbang Industri. Departemen
Perindustrian, 1984. 5 hal.
KONTAK HUBUNGAN
1. Lemlit Universitas Mahasaraswati Denpasar. Jalan Kamboja 11A Denpasar. Telp. 0361. 227019
2. UKM KIM Universitas Mahasaraswati Denpasar